Thursday, February 16, 2006

Ke Malang dan Tuban, sendirian???


Sudah lama saya pengen cerita pengalaman saya waktu jalan-jalan ke Malang dan Tuban, Desember lalu. Tapi nggak sempet-sempet. Bukannya sok sibuk, atau males, memang nggak sempet aja. Jadi sekarang saya memberanikan dan menyempatkan diri deh untuk cerita.

Waktu pertama kali denger saya bakal ditugaskan ke Malang dan Tuban, oleh kantor, saya sih tenang-tenang aja, karena awalnya ibu-ibu di kantor bilang bakal pergi berdua. Duh, nggak taunya, saya terpaksa pergi sendirian. Sekali lagi, Sendirian, saudara-saudara, ke Jawa Timur. Nah lho, sebelumnya kan saya nggak pernah tuh yang namanya pergi sendirian, ke luar kota pula. Pikirannya mah males, ngapain pergi sendirian, iseng banget nggak sih?? Tapi memang karena nggak ada orang lagi, jadilah saya sendirian ke sana.

Oke, barang-barang dah siap. Cukup bawa satu ransel dan satu tas baju. Kenapa bawa ransel, bukan tas kecil aja? Yah, kalo bawa tas kecil, segala barang kayak kamera, tape, kaset berikut batere2nya, payung, bedak, minyak wangi, dan teman-temannya bakalan nggak muat donk ;p

Tiket udah dipesan, Gajayana--eksekutif. Yap, tempat pertama yang akan saya datangi adalah Malang. Kota yang banyak orang bilang adem, sejuk segar, nggak riweuh. Kereta dijadwalkan pukul 16.55, tapi nyatanya kereta terlambat. Ah, lagipula kata Bang Iwan Fals, kereta terlambat sudah biasa... Jadi nggak kaget deh sama yang namanya terlambat atau telat di muka bumi Indonesia ini..hehe..

Kereta mulai bergerak. Alhamdulillah saya datangnya lebih dulu daripada orang yang bakal duduk di sebelah saya, jadi saya bisa dapat tempat tepat di samping jendela. Aaah…saya bisa melemparkan pandangan sepuasnya!! Melihat semua yang “bergerak” di balik jendela.

Teman seperjalanan saya adalah seorang laki-laki paruh baya. Bapak ini diam sekali, nggak mengucapkan satu patah kata pun. Yah, saya juga jadi terpaksa tak berkata-kata selama perjalanan. Tapi jadi enak juga ya, nggak diganggu sama pertanyaan2 seperti yang dilontarkan bapak yang duduk di belakang saya kepada seorang perempuan di sebelahnya. Kayaknya si mbak udah capek ngeladenin si bapak itu ngomong, hehe...

Sabtu, 10 Desember, jam 9.30, saya sampai di Malang. Saudara sepupu saya dan iparnya sudah menunggu saya di pintu keluar stasiun. Senangnya punya saudara yang bertebaran di luar kota, jadi nggak usah pusing mikirin penginapan. Kalo ada yang gratis, kenapa harus yang bayar.

O iya, saya belum cerita ya tujuan ke Malang dan Tuban?? Saya ke sana demi sebuah "misi," menemui calon-calon ibu teladan yang ikut serta dalam Ummi Award, acara rutinnya Majalah Ummi.

Nah, ba'da Dzuhur, dengan dibonceng motor oleh sepupu saya itu, lagi-lagi gratisan, saya menemui sang calon ibu teladan, Ibu Rini. Ia tampak kaget, sangat kaget bahkan, ketika tahu saya dari Jakarta. "Ini beneran dari Jakarta? Jauh-jauh dari Jakarta cuma mau menemui saya??" begitu katanya. Lalu kami pun terlibat dalam sebuah percakapan panjang. Banyak kisah mengalir darinya, tentang siapa dia, keluarganya, karirnya yang dulu ia tinggalkan, kegiatannya sekarang, cita-citanya, dan tentu saja saya mengorek tentang kemanfaatannya untuk lingkungan sekitar.

Ibu yang akrab disapa Mama oleh rekan-rekan kerjanya ini adalah seorang yang tangguh dan berkemauan kuat. Setidaknya itu dalam pandangan saya. Dulu, perjalanan karir Mama cukup bagus, malah tergolong cepat. tidak sampai beberapa tahun, Mama sudah berada di level manajemen. Tapi tiba-tiba Mama memilih untuk meninggalkannya. Meninggalkan karirnya, meninggalkan kehidupan yang dia bilang nggak membahagiakan, meski materinya melimpah. Ya, dia meninggalkan semua itu demi anak tercintanya, yang didiagnosa menderita autis ketika umur 4 tahun.

“Tadinya saya pikir dunia saya runtuh ketika tahu anak saya autis. Saya merasa begitu, karena...alhamdulillah saya dikasih prestasi baik waktu kerja, kemudian saya berhenti. Saya melihat teman-teman saya rumahnya bagus, punya mobil, saya serasa runtuh. Waktu itu saya merasa kenapa saya? Ternyata dari anak saya yang autis ini, justru rahmat buat saya karena membawa banyak sekali perubahan. Dulu saya kurus waku kerja. Saya merasa uang itu amat sangat penting karena tanpa uang saya kayaknya nggak bisa makan, nggak bisa ini itu. Setelah berhenti kerja, saya merasa jauh lebih bahagia dibanding dulu. Kenapa ya...saya juga jadi lebih gemuk. Mungkin saya merasa lebih tenang, dan berpikir bahwa hidup itu tidak hanya untuk uang.”

Memiliki anak autis, tentu saja dirasa Mama sangat berat. Apalagi ia tidak punya skill untuk merawat anak autis, ditambah lagi biaya terapi anak autis di Malang amat mahal. Tapi ini tidak lantas membuat Mama menyerah. Ia terus berusaha, banyak belajar tentang apa itu autis dan kebutuhan khusus, bagaimana menangani anak autis. Bagaimana pula jika anak autis itu berasal dari keluarga kalangan menengah ke bawah. Akhirnya, Mama memberanikan diri mendirikan tempat terapi untuk anak autis dan kebutuhan khusus bersama beberapa rekannya. Yang lebih hebat lagi, menurut saya, biaya terapi di tempat terapinya lebih murah 60 persen dibanding tempat lainnya di Malang. Waktu itu, tempat terapinya berada di sebuah rumah sakit di Malang, tapi karena ruangan yang ada tidak cukup lagi menampung, Mama merelakan rumahnya dijadikan tempat terapi, dan ia pindah ke rumah yang lebih kecil.

Kini, sebuah tempat terapi bernama River Kids, sudah berdiri di kawasan Perumahan Joyo Grand, Malang. Tempat terapi yang Mama dirikan bersama beberapa temannya itu terlihat sangat sederhana, dengan peralatan yang sederhana pula, tetapi mampu memberi manfaat yang luar biasa besar untuk lingkungan. Sampai Desember lalu, River Kids memiliki 42 anak autis dan kebutuhan khusus, sebagian besar di antaranya berasal dari kalangan tidak mampu.

Semangat Mama tidak berhenti sampai si situ saja. Ia bercita-cita mendirikan sekolah untuk anak autis dan kebutuhan khusus, tentunya dengan gedung yang memadai dan kurikulum yang disusun berjenjang dari elementary, intermediate, dan advance. Di sekolah itu, akan ada bengkel-bengkel kerja untuk menggali dan mengembangkan potensi anak-anak autis, sehingga kelak mereka dapat hidup lebih baik, setidak-tidaknya dapat hidup mandiri.

Itu gambaran singkat tentang Mama, yang memberikan hatinya untuk anak-anak autis dan kebutuhan khusus, terutama mereka yang berasal dari kalangan menengah ke bawah.

Ahad pagi, 11 Desember 2005, perjalanan saya lanjutkan. Kali ini saya menuju sebuah desa di kawasan Tuban, Jawa Timur. Dari terminal Malang saya menuju Bojonegoro. Seharusnya saya bisa naik bis yang langsung ke Bojonegoro, tapi karena ternyata bisnya baru beberapa jam lagi berangkat, akhirnya saya putuskan untuk transit di beberapa terminal. Dari Malang ke terminal Bungur Asih, Surabaya. Dari sana saya ganti bis, menuju terminal Wilangun. Dari Wilangun, saya ganti bis lagi, ke Bojonegoro. Pfuiih...

Masuk keluar terminal, gonta-ganti bis, ketemu beraneka ragam orang, melihat-lihat aneka rupa pemandangan...sendirian, ternyata membawa kenikmatan sendiri buat saya. Dulu, saya pikir, aduuuhhh mana enak pergi sendirian, keluar kota pula. Tapi setelah dijalani, Allah memberi begitu banyak kenikmatan. Saya jadi punya kesempatan untuk merenung, memikirkan kembali apa yang sudah saya lalui, dan apa yang ingin saya capai kelak. Seolah-olah film tentang cerita hidup saya terputar di depan mata, seiring laju bis menyusuri jalan-jalan pedesaan. Mudah-mudahan saya bisa mengambil pelajaran dari apa yang sudah saya lalui.

Perjalanan seorang diri ini juga memberikan saya kesempatan untuk menyaksikan begitu Mahakuasanya Allah melalui aneka ragam ciptaan-Nya. Lihat, di balik jendela ada begitu banyak pohon aneka rupa yang hijau merindang, rumah-rumah penduduk yang berjajar rapi, anak-anak kecil yang bermain bola di tanah lapang, hamparan sawah dan ladang bak permadani hijau, sungai-sungai yang besar dan kecil, yang menyembulkan bebatuan, gemericik air yang menyegarkan, dan saya tahu pasti terdengar merdu....semua begitu indah dipandang mata. Subhanallah…Allah The Great!

(cerita di Tuban, saya lanjutkan nanti yaaa...) :p

2 comments:

Zawa said...

Wahh... senengnyajalan-jalan... saya juga orang tuban lho mbak... hihihihi... met kenal yak...


http://zawa.blogsome.com

Rumah Autis said...

Rumah Autis YCKK adalah LSM nirlaba yang mengkhidmadkan diri dalam perjuangan membantu terapi bagi anak-anak autis dhuafa. Alangkah mulianya program kemanusiaan ini bila mendapat dukungan berupa spirit dan donasi dari orang-orang yang memiliki empati dan kepedulian terhadap sesama. Kunjungi kami di Rumah Autis YCKK